Made with Tripod.com
KIK Blog
Blog Tools
Edit your Blog
Build a Blog
RSS Feed
View Profile
« February 2012 »
S M T W T F S
1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29
You are not logged in. Log in
Entries by Topic
All topics  «
curhatan
Interview
Laporan
10 April 2009
Seni Rupa Perkembangan
Mood:  cool

Seni rupa, bagi anak-anak bukan sekedar menggambar, melukis dengan cat dan bekerja (bermain) dengan tanah liat. Ia adalah suatu jelmaan dari proses-proses dasar belajar yang bertalian dengan konsepsi (pengertian) dan adalah suatu media komunikasi kreatif bagi anak. Banyak anak-anak mengalami peningkatan kualitas belajarnya melalui penggabungan proses belajar secara verbal dan sajian auditorial dengan proses belajar yang memanfaatkan kegiatan-kegiatan yang melibatkan fisik, aspek-aspek visual dan taktial dari karya artistik. Di dalam setiap karya seni dari seorang anak adalah perasaannya, kemampuan intelektualnya, kepekaan persepsinya, keterlibatan kreatifnya, perkembangan sosialnya dan kesadaran estetiknya. Keterlibatan dengan media seni dan proses-proses berkesenian yang tepat untuk tahap perkembangan, diharapkan dapat  merangsang kesadaran akan 8 komponen proses kreatif yang saling mempengaruhi. Kedelapan komponen kreatifitas ini untuk perkembangan rasa estetik dan produksi karya artistik bagi anak-anak maupun dewasa, yakni: "fasih atau lancar dalam berpikir (fluency in thinking), kelenturan (flexibility), keaslian (originality), berpikir luas dan rinci (elaborate thinking), mengambil resiko (risk taking), kerumitan (complexity), keingintahuan (curiosity), dan daya khayal (imagination)”. Bagaimanapun juga, seni rupa untuk anak-anak tidak sama dengan seni rupa untuk dewasa. Seni Rupa untuk dewasa lebih mementingkan hasil karya, sedangkan seni rupa untuk anak-anak (dan seniman dewasa) lebih mementingkan proses yang membawa kepada hasil akhir karya seni.  Sebagai orang dewasa, kita pasti perlu menjelajahi proses kreatif melalui membuat karya seni. Proses penjelajahan itu akan membantu kita untuk memahami secara lebih baik sikap-sikap anak terhadap kreatifitas. Kita akan melihat proses kreatif sebagai  yang mengembangkan suatu keterbukaan kepada "menemukan tantangan-tantangan yang tak diketahui, memajukan banyak ide dan pemikiran, mencari perbedaan dan persamaan," dan, "mempunyai pemikiran yang asli dan unik." Akhirnya, kita akan berusaha mempertinggi sikap kreatif pribadi kita sendiri melalui keterlibatan interaktif kita dalam proses kreatif.

 

Dituturkan kembali oleh:

Mat Eko Wibowo

Dari sumber:

Tulisan Dr. Sharon Smith

(www.csuchico.edu)


Posted by kikblog at 12:33 PM
Share This Post Share This Post
Post Comment | Permalink
27 April 2007
Belajar Menggambar di Masjid
Mood:  sharp
Now Playing: Belajar = Ibadah
Topic: Laporan

 

Belajar Menggambar di Masjid

CoolKegiatan di  sebuah Masjid bukan hanya melulu sholat, mendengarkan khotbah dan membaca Al Qur’an, tetapi juga untuk kegiatan positif lainnya. Seperti di masjid Al A’ Raaf (yang terletak di Dahlia Loka, Graha Raya Bintaro Jaya, Serpong), selain tempat belajar Al Qur’an bagi anak-anak TPA, juga tempat belajar menggambar. Kenapa belajar menggambarnya di Masjid? Apakah karena tak ada tempat lain? Bukan!! tetapi karena belajar menggambar di masjid sama halalnya dengan belajar membaca Al Qur’an di masjid. Menggambar adalah salah satu bidang keahlian yang mampu meninggikan jiwa. Bidang seni yang mengembangkan kecerdasan (terutama kecerdasan visual) dan merangsang daya kreatif untuk menuju ke arah perkembangan kebudayaan dan peradaban yang lebih baik sesuai dengan ajaran Agama.

Kegiatan belajar menggambar di TPA Al A’Raaf dilaksanakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Anak-anak TPA Al A’ Raaf terdiri dari anak-anak usia TK sampai SD kelas 6, oleh karena itu peserta belajar dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok A, untuk siswa/i TK – kelas 2 SD. Kelompok B, untuk siswa/i kelas 3 – 6 SD. Kegiatan itu dilakukan selama 4 kali setiap hari minggu pagi dari jam 8:30 – 10:00 WIB untuk kelompok A, dan jam 10:00 – 11: 30 WIB untuk kelompok B.

InnocentCara merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan belajar menggambar ini dimulai pada minggu pertama tanggal 11 Maret 2007. Tema dalam pelajaran menggambar minggu I adalah “Keluargaku Tercinta”, kemudian untuk minggu II temanya adalah “Rumahku Istanaku”, pada minggu III temanya “Berlibur Bersama Keluarga”, sedangkan pada minggu IV atau sesi terakhir dari pelajaran menggambar ini temanya adalah “Masjid Tempat Aku Beribadah”. Jika belajar itu termasuk dalam kegiatan ibadah, maka belajar menggambar di Masjid sama baiknya dengan belajar membaca Al Qur’an di Masjid.

Akhirnya, sebagai evaluasi minat dan ketrampilan menggambar siswa setelah mengikuti pelajaran di 4 sesi sebelumnya, diadakan lomba menggambar pada minggu V tanggal 8 April 2007. Tema lomba menggambar itu bebas namun dalam konteks ibadah yang dianjurkan Rasulullah dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Setelah selesai lomba, anak-anak TPA itu mendengarkan Ustad Salman ceramah Maulid Nabi.

Demikianlah, hasil belajar menggambar tersebut tidak mengecewakan karena ternyata anak-anak TPA Al A’Raaf itu senang menggambar dan dapat mengungkapkan perasaannya melalui bahasa gambar(visual). Ya, Gambar merupakan ‘bahasa’ yang universal. Semua bangsa di dunia saling mengenal dan dapat berkomunikasi melalui gambar.

Oh iya, Gagasan kegiatan tersebut berasal dari Ibu Ratih, pengasuh TPA Al A’Raaf Dahlia Loka, Graha Raya - Bintaro Jaya. Beliau juga yang mengundang dan mempercayakan Mat EkoW dari Klub Indonesia Komik untuk membimbing anak-anak dalam belajar menggambar.

Cool

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Innocent

 


Posted by kikblog at 7:35 PM
Updated: 25 May 2007 9:17 AM
Share This Post Share This Post
Post Comment | View Comments (2) | Permalink
24 December 2006
Buku Komik Karya KIKers
Mood:  lucky
Now Playing: Rajin dan tekun belajar, menghasilkan karya bermanfaat.
Topic: Laporan

Anak-anak KIK (KIKers) telah menghasilkan karya dalam bentuk buku komik. Selama ini sudah ada 5 buku komik yaitu:

1. Ninja Hoi & Mr. Brewok, karya: Vania Diary, kelas 1 SMP.

2. Tales Of Local Heroes, karya :Poska Ariadana, kelas 2 SMP.

3. StreetBall #1, karya: Frans YS, kelas 5 SD.

4. Sweet Stories, karya: Valentina Jasmine, kelas 2 SMP.

5. PLAYBOX, kompilasi komik karya: anak-anak KIK.

Buku-buku itu berukuran A5, dicetak dengan cara fotokopi dan dijilid dengan staples. Yang paling tebal setebal 24 halaman dan yang paling tipis 12 halaman. Bagi yang ingin memiliki bukunya dapat memesan via e-mail ke: klub_indonesia_komik@yahoo.com.






 

 


Posted by kikblog at 12:03 PM
Updated: 24 December 2006 12:39 PM
Share This Post Share This Post
Post Comment | Permalink
15 August 2006
Program Liburan Yayasan Pendidikan Dharma Putra
Mood:  smelly
Now Playing: Belajar Menggambar
Topic: Laporan
Saat liburan sekolah kenaikan kelas bulan Juli 2006 kemarin, Yayasan Pendidikan Dharma Putra di Tangerang menyelenggarakan program liburan dengan acara: “Belajar Menggambar untuk anak TK dan SD”. Pesertanya dari lingkungan sekitar Sekolah Dharma Putra di Tangerang. Aku (Mat Eko) dipercayakan untuk membimbing anak-anak itu. Memang asyik membimbing anak-anak berbakat. Mereka pintar-pintar dan penuh semangat untuk berekspresi dengan cara menggambarkan khayalan mereka di kertas gambar menggunakan pensil warna. Ya, untuk anak-anak itu, latihan menggambar adalah cara yang paling dasar untuk meningkatkan kecerdasan visual. Menggambar adalah Induknya Seni Rupa.


Posted by kikblog at 10:37 AM
Share This Post Share This Post
Post Comment | Permalink
31 July 2006
Cartoon & Comics Fair
Mood:  silly
Now Playing: KIKers juara gambar komik!
Topic: Laporan

Telah terjadi pertempuran untuk memenangkan kompetisi menggambar komik tanggal 22 dan 23 Juli 2006 kemaren di Alam Sutera-Serpong, Tangerang.

Peristiwa itu ada dalam acara "Cartoon & Comics Fair". Pelaku pertempuran itu di antaranya adalah KIKers! Ya, ada beberapa KIKers yang maju karena ditantang oleh panitia lomba menggambar komik. Dan, KIKers jadi juara!! wakakakaka.......... Baik di kategori SMP, SMA dan Umum maupun di kategori anak-anak SD hehehehe.......

Pertempuran itu juga terjadi di antara KIKers sendiri...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain lomba gambar komik, ada banyak kegiatan di situ. Di antaranya adalah menggambar kain panjang yang dijembreng di pinggir arena "Bombom Car", pameran komik anak-anak (komik KIKers semua, anak-anak lain pada gak sempet bawa karyanya buat dipamerkan), bazaar (jual komik, majalah buku yang berhubungan dengan komik), dan Pameran gambar komik dari MKI dan Lukas, juga M&C, Komik Indonesia.com, Toko Komik & Tjersil, dan Majalah SeQuen.  Juga Workshop Komik untuk anak-anak oleh Kak Bob dari M&C! (sori gambarnya gak tajam maklum fotografernya gak profesional)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada hari Sabtu tanggal 22 Juli ada diskusi soal ya apalagi kalo bukan komik, oleh tokoh-tokoh komik dari Komik Indonesia.com, MKI, dan komikus senior. Sayang hari itu aku gak datang, jadi gak tau apa yang dibahas dan siapa aja yang ngomong.  Aku sempetnya datang hari Minggu. Lihat anak-anak SD yang lagi pada lomba, lihat bazaar dan pameran. Di antara gambar karakter komik yang dipamerkan ada karya Lukas "Gatot Koco" yang memakai sabuk seperti sabuknya Batman. Di sabuk itu ada benda yang mirip Handphone.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akhirnya, acara pengumuman juara lomba gambar komik kategori anak SD. Juara 1, Jane Budiman (KIKer). Juara 2, Rikat Setiabudi (KIKer juga). Juara 3 Salindri (KIKer juga) wakakakakaka......(gambarnya gak tajam!!!)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sedangkan Juara 1 untuk kategori SMP ke atas adalah Michael William (KIKer juga!) dengan tokoh karakter ciptaannya sendiri "Eugene" yang kocak. Sayangnya aku gak punya fotonya, tapi gak apa karena aku punya foto salah satu jurinya yaitu Oyas Sujiwo dari MKI. Juri yang lainnya aku lupa namanya kecuali Rama dari Majalah Sequen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Hehehe...... Pak Juri Oyas dari MKI lagi menghadiahi juara 2 lomba gambar komik kategori anak SD.

Dah segini aja deh, karena setelah itu, acaranya: lomba memakai kostum karakter komik. Anak-anak KIK gak suka, mereka pada pulang. Aku juga pulang aja deh, gak usah sok suka atau pura-pura suka (Snob).


Posted by kikblog at 8:01 AM
Updated: 31 July 2006 8:07 AM
Share This Post Share This Post
Post Comment | Permalink
13 July 2005
Ngobrol Santai bersama Alfi Zachkyelle
Mood:  mischievious
Now Playing: Jiwa Nampak!
Topic: Interview


Ngobrol santai bersama Alfi Zakhyelle

Wawancara ini terjadi setahun yang lalu yaitu bulan Juli tahun 2004. Sudah dimuat di Kalawarta Pecelkomik #3.


T: “Dua Warna” itu komik karya kamu sendiri ataukah berdasarkan pesanan M&C ?
J: Karya gue sendiri, mulai dari konsep sampai finishing. Kemudian M&C memberi masukan buat gue respon.

Konsep cerita Dua warna gimana?
Ide ceritanya dari pertemuan dua pemikiran yang berbeda dalam memecahkan sesuatu. Pertemuan dari dua budaya, yang terbuka dan tertutup atau yang rasional dan yang irrasional. Yang rasional diwakili oleh masyarakat perkotaan sedangkan yang irrasional diwakili oleh masyarakat yang masih berpijak pada alam dan pengaruh mistis-relijius.

Dua Warna menceritakan apa?
Tokoh utama . Justru tokoh yang antagonis atau istilahnya penjahatlah. Die melakukan kejahatan bukan karena jahat, tapi karena keadaan lingkungan yang membuatnya berbuat yang dianggap jahat. Ceritanya termasuk petualangan yang misterius, semacam X-File.

Berarti, fiksi ilmiah?
Iye! Memang lebih ke fiksi ilmiah, Campuranlah. Fiksi ilmiah campur misteri petualangan.

Pesan apa yang terkandung dalam Dua Warna?
Mengajak pembaca berpikir hal-hal yang selama ini tak dipikirkan atau yang menjadi masalah untuk dipecahkan. Masalah itu yang biasanya dianggap gak penting dan kontroversial, tetapi sebetulnya justru akar persoalan dari masalah-masalah yang muncul di masyarakat.

Apakah pernah ada kritik, saran atau tanggapan dari pembaca karyamu?
Banyak banget. Kebanyakan suruh perbaiki cerita. Mereka bilang, ceritanya terlalu berat. Mereka masih mau yang simpel, bukan merespon pesan dalam komik.

Mengenai Komik Indonesia, gimana pendapatmu?
Pendapat gue, Komik Indonesia sekarang beda dari yang dulu. Yang sekarang lebih radikal, lebih berani. Mungkin karena spiritnya dan pengaruh kemajuan jaman dan teknologi.

Menurut kamu, perlu gak jatidiri atau identitas Komik Indonesia?
Identitas, kadang-kadang jadi rancu. Komik Indonesia itu menurut gue adalah jiwanya. Jiwa Indonesia. Apapun gayanya, entah gaya Amerika, Eropa atau Jepang, asal jiwa Indonesianya tampak, maka itulah komik Indonesia. Jadi, identitas itu tetap perlu, tapi bukan dari gaya melainkan dari jiwanya.

Seperti apa komik yang berjiwa Indonesia itu? Ada contohnya?
Banyak komik-komik yang berjiwa Indonesia. Yang gue tau, komik Kapten Bandung, Carok, Boneka Kematian, Ophir, Komiknya Erfan, dan lain-lain. Meskipun bergaya Amerika atau Eropa atau Manga, tapi jiwanya Indonesia.

Komik yang tidak berjiwa Indonesia seperti apa?
Komik-komik bergaya Manga yang berusaha menjadi Komik Jepang. Gue sebut itu Manga gak jadi atau Manga gagal. Tulis yang gede ya: Gue benci banget sama komik-komik apapun yang berusaha menjadi Komik Amerika, Eropa atau Jepang yang dibuat bukan karena kesukaan yang berasal dari dalam jiwa. Jadi, seperti korban mode, Cuma ikut-ikutan. Gak mengacu pada dirinya sendiri, tapi pada mode yang lagi digemari oleh orang-orang. Acuannya, yang penting laku deh.

Lu hidup dari komik, atau komik yang hidup dari lu?
Gue yang menghidupi komik! Gak pernah komik menghidupi gue.

Kenapa?
Karena gue gak cari duit dari komik. Tapi komik itu pilihan gue untuk berekspresi.

Jadi, lu kerja cari duit buat bikin komik?
Iye, sebetulnya itu proses alam. Dalam berkarya, kita ikhlas aje. Yang penting ikhlas, karena semuanya itu berasal dari dalam jiwa dan ditentukan oleh yang di Atas. Kita bikin komik sebebas mungkin, karena itu anugrah dari Atas yang harus dieksplorasi.

Setujukah jika Komik Indonesia jadi produk industri?
Itu relatif, dalam arti kata: Ketika lingkungan itu kondusif untuk Komik Indonesia dijadikan komoditi. Tapi jika lingkungan tidak kondusif, maka sebaiknya jangan dulu jadi industri. Industri itu kan ada mata rantainya, ada demand dan ada produsen. Ada kebutuhan. Perlu membangun awareness dulu. Kalo komik sudah jadi kebutuhan, maka industri dapat berjalan. Kemudian akan sah-sah aje komik dijadikan komoditi.

Apakah Komik Indonesia sangat tergantung pada penerbit?
Gak juga, karena Indonesia punya iklim yang unik. Karena di sini kita punya suatu budaya gado-gado. Kita ini identitasnya gak jelas. Negara besar, kaya, tapi karena orang-orangnya kurang eksplorasi, maka ada semacam kegamangan. Seperti gak punya pijakan dan pegangan. Itu mempengaruhi konstelasi industri komik di sini. Misalnya: trend/mode di pasar yang selalu berubah dengan cepat, kitapun sibuk mengikutinya. Ada American Idols, lalu muncul Indonesian Idols. Ada Meteor Garden, lalu ada sinetron kita yang sama seperti meteor garden. Jadi, potensi yang kita miliki tidak tergali dengan baik dan benar.

Kita ini selalu jadi pengekor atau pembebek wek wek wek?
Iye! Itu karena identitas asli kita sebagai bangsa Indonesia kurang digali, malah terkubur. Menggali identitas bukan berarti terus bikin wayang, tetapi lebih kepada semangatnya, seperti gotong royong. Sebetulnya kita punya semangat kerja keras. Tapi malah kita semakin menjadi barbar atau suka ngotot. Bekerja keras tanpa menggunakan pikiran panjang. Sifatnya praktis. Reaktif. Itu yang menonjol di kita. Semangat berkumpul atau komunal sangat kuat, tetapi kurang dalam bekerja sama untuk saling memahami perbedaan. Kurang menyadari potensi besar dalam semangat kebangsaan. Misalnya: Kalo lu punya sesuatu yang bisa disumbangkan untuk Negara, istilahnya berkarya untuk negara, maka lu tidak tergantung oleh Negara. Punya inisiatif untuk membangun. Negara kan seperti rumah lu sendiri, jadi jaga dong, jangan malah dirusak. Berkarya itu apaan aje. Bikin komik kek, bikin musik kek, bikin ape kek secara bertanggung jawab untuk Negara. Kalo gak bisa apa-apa setidak-tidaknya gak merusak Negara. Itulah yang gue maksud semangat kebangsaan.

Dari komik-komik Indonesia di jaman kini, gimane pendapet lu dari segi ceritanye?
Perlu dieksplorasi lagi ceritanye. Karena masyarakat kita pemahamannye atau apresiasinye masih bersifat ‘easy reading’ yang mudah dibaca dan dimengerti.

Berarti, komik bisa memberi pendidikan untuk masyarakat dalam meningkatkan pemahaman (apresiasi) dalam membaca.
Begitu?

Ye, bisa! Dikembalikan lagi kepada fungsi komik: edutainment. Fungsi mendidik dan menghibur.

Apakah cerita sangat menentukan keberhasilan sebuah komik dibaca masyarakat?
Cerita yang bagus itu yang bisa merepresentasikan jiwa kepada pembaca. Yang bisa menjadi pembebas. Tokoh-tokohnya bisa mewakili diri pembaca.

Yang dapat memberi inspirasi kepada pembaca dalam menjawab atau mengatasi masalah?
Iye!

Kalau gambar?
Gambar dan cerita merupakan satu kesatuan yang gak bisa dipisahkan. Gambar itu ibaratnya fisik. Seperti lu liat cewek cantik, gambar itu komunikatif. Sedangkan cerita itu adalah jiwa. Itu sudah menjadi satu kesatuan. Gambar dan cerita tak dapat dipisahkan.

Mengingat salah satu dari fungsi komik adalah menyebarkan bahasa dan budaya, gimana menurut lu, apakah sudah cukup berfungsi atau belum?
Fungsi komik itu media atau alat. Fungsi memang sudah berjalan, contohnya seperti komik-komik terjemahan.

Gimana lu bersikap terhadap bahasa dalam komik-komik Indonesia?
Lihat lingkungan, jaman global, lingkungan sudah dikotakkan bahwa bukan milik kita, meskipun jadi gak masalah. Kebanyakan bahasa kita sekarang adalah serapan dari bahasa asing. Pemakaian bahasa itu tergantung tujuan, jika ingin Go Internasional, ya gunakan bahasa internasional.

Kalo untuk dalam negeri?
Setiap Negara punya budaya sendiri yang berbeda-beda. Jepang sangat kuat budayanya. Amerika, budayanya gado-gado juga seperti kita. Tapi budaya kita lebih ca’ur secara identitas. Sebetulnya potensi budaya kita sangat gila. Tapi kita kurang menghargai nilai suatu karya. Misalnya bajakan, dan serapan-serapan yang tanpa filter itu yang membuat ca’ur. Kita itu sudah rajin dan kerja keras, tapi kadang malas untuk pengembangan. Cepat merasa puas.

Setujukah jika Komik Indonesia harus selalu mengikuti selera pasar?
Selera pasar, tergantung individu komikus, bukan lingkungan. Itu balik ke kepribadian komikus.

Menurut lu, apakah sama selera pasar dengan selera penerbit?
Biasanye tuh setali tiga uang. Sebetulnya penerbit itu adalah: misalnya lu bikin komik indy, terus lu terbitin sendiri. Lu tu udeh jadi penerbit.

Penerbit bisa menciptakan pasar?
Bisa. Dalam kondisi tertentu, penerbit dapat menciptakan pasar. Tetapi sebelum itu, minimal dia sudah tau keadaan pasar.

Apakah selera pasar dapat dipengaruhi atau dibentuk dengan promosi dan iklan?
Mungkin. Secara psikologis, manusia itu kan mahluk pemburu. Kesukaan dan kebutuhan kita dapat diciptakan oleh iklan-iklan yang komunikatif dan tepat sasaran. Tapi ada hal lain yang tak dapat dipengaruhi, misalnya tingkat kebutuhan masyarakat yang dipengaruhi taraf ekonomi atau apapun.

Apa kegiatan lu selain bikin komik?
Desain Grafis sama bikin film indy. Gue bikin cerita sendiri, sutradarain sendiri, yang main temen-temen gue. Gue punya tim atau kru. Singkatnya gue dibantu temen-temen gue, gitu.

Ada yang lain lagi?
Ngeband, musiknya punk melodik.

Sekarang, lu lagi ngerjain kegiatan apaan?
Naah…. Ini pertanyaan yang dari tadi gue tunggu-tunggu……
Gue sekarang lagi pengen cari istri. Gue lagi suka banget sama Marshanda. Orangnya lucu, imut, pengen deh jadi pacarnye. Tapi sayang die masih kecil dan gak mau ame gue. Seandainya die mau ame gue, he he he …. Batu neraka akan jatuh ke bumi.

Kesian amat lu!

Kemudian Alfi terkapar, dia meracau tidak jelas. Ternyata sejak tadi dia bicara sambil tidur. Pantesan, waktu mulai ngobrol duduknya tegap, tapi semakin lama semakin melorot dan akhirnya rebahan. Sekarang die udeh tidur beneran, gue tinggal aje deh.(mat pecel)





Posted by kikblog at 8:26 PM
Share This Post Share This Post
Post Comment | Permalink
2 July 2005
Stiker KIK
Mood:  happy
Now Playing: 2 KIKers mendisain sticker Klub Indonesia Komik
Hari Sabtu 18 Juni 2005, 2 orang KIKers (Amanda Marsono dan William B.) telah membuat rancangan grafis untuk dijadikan stiker KIK. Kedua anak itu yang membuat rancangannya, sedangkan aku Mat EkoW yang mengerjakannya di komputer. Inilah dua desain grafis karya 2 KIKers.Desain dengan gambar anak perempuan berdiri memegang benda kotak bertuliskan KIK, adalah Karya Amanda Marsono (kelas 6 SD Dharma Putra, Karawaci Tangerang).
Sedangkan yang bergambar anak laki-laki sedang main YoYo, tangan kirinya mengacungkan dua jari tengah dan telunjuknya sambil bilang:"PEACE", adalah karya William B (kelas 5 SD Ricci II, Pondok Aren, Bintaro).Dan desain yang hanya berupa tulisan KIK adalah karyaku he he he



Posted by kikblog at 7:21 PM
Updated: 2 July 2005 7:54 PM
Share This Post Share This Post
Post Comment | Permalink
26 May 2005
Pameran Komik Tragedi Mei'98
Mood:  special
Now Playing: Seni Komik, Grafis atau Poster?
Topic: Laporan
Sayang waktu pembukaan kemaren hari rabu 25 mei 2005, aku tak bisa datang. Tapi tak apalah yang penting aku bisa lihat karya gambar-gambar poster dan Komik tragedi mei hasil workshop Universitas Tarumanegara Jakarta. Bung Adit yang ngundang aku, bilang: "sayang yang ikut workshop komik sedikit, kebanyakan pesertanya memilih workshop bikin poster." Di pameran itu, tempatnya di griya rupareka FSRD Untar, hanya ada dua karya komik yang dipajang. "Mestinya ada tiga, tapi entah mengapa yang satu lagi tak dipamerkan, padahal ekspresinya bagus. Yang lihat bisa sedih." kata Bung Adit. Ya memang, aku lihat komik yang berjudul Kisah "Bahagia" Mei (lihat gambar komik dalam ukuran aslinya) Komikusnya berhasil mengungkapkan perasaannya dan menulari perasaanku.
Sedangkan komik yang satu lagi What Should We Do? (lihat gambarnya) yang digambar dengan pensil, aku perlu perenungan dulu baru bisa mengerti. Aku baru mengerti ceritanya setelah memperhatikan dengan seksama. Komik itu bercerita tentang seorang manusia yang menggali lubang di pemakaman. Ada 'flashback' gambaran peristiwa yang dialaminya. Kemudian orang itu terkubur (atau mengubur diri?). "Hm.. komik ini mengungkapkan dampak psikologis pada orang yang mengalami peristiwa Mei'98." begitu kupikir. Bung Adit bilang:" Kata Bung Firman yang membimbing workshop, komik ini ekspresinya bagus." Lalu kubilang:"Sayang cetakannya terlalu kontras pengolahan pada komputernya terlalu gelap, jadi gambarnya kurang jelas padahal seni grafis banget. Seperti cetakan lithografi."

Karya lainnya, gambar, poster (Padahal kedua komik itu juga poster perhatikanlah kemasannya poster banget) dan lukisan. Teknik pembuatannya bermacam-macam ada yang dengan fotografi adapula dengan cat minyak di atas kanvas. Di situ ada lukisan super realis (dengan cat minyak di atas kanvas)karya Donald Basoon, aku seperti kenal nama itu karena pernah lihat karya komik lingkungan hidup yang pembuatnya bernama Donald Basoon.
Dari lukisan, gambar dan poster yang sangat "art" itu penonton perlu merenung dan menghubungkannya dengan tema "Tragedi Mei" Sedangkan dari komik, seperti yang aku rasakan itulah tersedihkan.
Entah mengapa peserta workshop komik hanya sedikit. Mungkin jika banyak, nanti penonton pameran akan sedih bahkan bisa menitikkan air mata. Karena apa? karena ungkapan melalui komik lebih mudah dipahami sehingga lebih cepat mempengaruhi perasaan. Itu memang tergantung pembuatnya. Ada yang dengan jelas berekspresi menularkan perasaannya kepada penonton, ada yang membuatnya sebagai karya seni yang mengajak penonton merenung bukan bersedih.
Seperti tulisan di bagian bawah komik Kisah 'Bahagia' Mei...




Posted by kikblog at 11:01 PM
Updated: 9 July 2005 10:23 PM
Share This Post Share This Post
Post Comment | Permalink

Newer | Latest | Older